Hanya 3 Start Up Yang Terpilih Mengikuti GSAP

Hanya 3 Start Up Yang Terpilih Mengikuti GSAP – Samsung Global Startup Acceleration Program (GSAP) telah berakhir. Tiga start-up terbaik, yakni Moi, Majapahittech, dan Ailesh Power Co, akan mewakili Indonesia untuk mengikuti kompetisi di tingkat Asia-Pasifik. Mereka akan bersaing dengan start-up terbaik dari India, Malaysia, dan Afrika Selatan, yang juga mengikuti Samsung GSAP. “Mereka sudah mengikuti proses seleksi sejak Mei 2018. Di Indonesia, pesertanya 23 start-up.

Mereka melalui seleksi proposal yang dipilih oleh Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada dan tim Samsung,” ujar Corporate Social Contribution Samsung Electronic, Jihyun Yoon, di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Yogyakarta, Jumat pekan lalu.

Yoon melihat antusias start-up Indonesia sangat baik. Buktinya, ada lebih dari 150 start-up yang mengirimkan proposal. Pro posal tersebut lantas diseleksi oleh pihak UGM, disaring menjadi 50, yang selanjutnya dikirim ke Korea untuk diseleksi oleh karyawan Samsung, yang juga akan menjadi mentor selama GSAP berlangsung. Proposal tersebut datang dari berbagai daerah, antara lain Surabaya, Lampung, Makassar, Bontang, Jakarta, Medan, Bandung, Surakarta, Semarang, dan Yogyakarta.

Setelah disaring, tinggal 23 startup yang berhak mengikuti sesi pembinaan. Mereka mendapat pelatihan dari para mentor karyawan Samsung. “Materinya telah di siapkan agar lebih kondusif, diskusi dapat lebih mendalam, dan materi yang diberikan dapat diterima dengan lebih maksimal,” kata Yoon. Ketiga start-up terbaik merupakan usaha rintisan dengan bidang berbeda.

Start-up terbaik adalah Moi, yang memberikan penawaran sebuah aplikasi sebagai perantara antara bidan atau pe rawat dan masyarakat yang membutuhkan pendampingan kesehatan. “Moi adalah aplikasi untuk membantu warga Indonesia yang mem butuhkan pelayanan ke sehatan di rumah dan pendampingan di rumah sakit. Tenaga kerjanya adalah bidan dan perawat terlisensi dan sudah masuk training center.

Artinya mereka mempunyai ke mampuan dan kualitas baik,” ujar CEO Moi, Kristina Sembiring. Start-up asal Medan ini sudah memiliki 102 mitra bidan dan perawat. Mereka sudah melalui proses rekrutmen dan masuk dalam training center yang diadakan secara cumacuma.

“Mana yang bisa yoga, mana yang bisa mendampingi ibu bersalin, mana yang bisa merawat, dan segala macam. Jadi kita punya tenaga ahli siap pakai,” ucap Kristina. Start-up terbaik kedua ditempati tim mahasiswa UGM dengan alatnya Majapahittech.

Mereka mena warkan alat yang dapat di pasang pada se tang sepeda motor un tuk menghindari pen curian. Menurut CEO Maja pahittech, Alwy Herfian S., alat ini tergolong revolusioner dengan sistem yang akan memudahkan pengguna. “Kami terinspirasi dari password yang digunakan untuk membuka kunci pada ponsel. Kita harus mem- punyai kode, salah satunya berupa angka,” ujar Alwy. “Konsep itu kami terapkan pada alat ini. Nantinya hanya pemilik sepeda motor yang mengetahui pembuka kunci pada sepeda motornya. Misal, tombol klakson, tombol lampu, atau lainnya yang bisa digunakan sebagai pembuka kunci.”