Hatchery Dihantam Tsunami, Produksi Udang Terancam Bagian 2

Pemulihan

Untuk mempercepat pemulihan, kata Waiso didampingi Juhariansyah, Sekre – taris APU dan Abdul Rohim, Wakil Sekre – taris APU, pengusaha hatchery memerlukan bengkel keliling untuk memperbaiki mesin yang rusak. Kemudian, tenaga mekanik tambak buat merancang instalasi air dan listrik di hatchery. “Kami juga butuh peralatan untuk men jalankan usaha, seperti genset, pompa air, blower, dinamo dan lainlain bagi hatchery yang mengalami ke rusakan ringan dan sedang,” timpal Juhariansyah. Hatchery yang ru – sak parah membutuhkan modal un – tuk membangun bak-bak pembesaran be – nur dan modal usaha.

“Mi – ni mal kami diberi bantuan dana talangan agar bisa kem bali melanjutkan ber – usaha,” harapnya. Waiso ju – ga meminta bantuan pe – me rintah dalam pemulihan hatchery. Tujuannya, program pemerintah bersama segenap pemangku ke – pen tingan agar peran Lam – pung sebagai lumbung udang nasional tetap bisa dijalankan. B a m b a n g N u r d i y a n t o , K o o r d i n a t o r Tim Iptek Fo – rum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung menyarankan anggota APU berdiskusi dengan para pe – lang gan. Di antaranya Per – him punan Petambak dan Pengusaha Udang Wilayah (P3UW ) Rawajitu, Tulang – bawang, serta kelompok pem budidaya udang lainnya di Lampung Timur dan Lam – pung Selatan.

Pelanggan ini terutama P3UW memiliki dana untuk dipinjamkan ke APU. “Minimal mereka bisa menjadi semacam avalis atau buat surat kontrak pem belian benur jika hatchery mau pinjam ke bank,” ucapnya. Sementara, Balai Besar Per – ikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung dapat meneliti kandungan sulfur dan lo – gam lainnya di sentra hat – chery dan tambak udang. Pasalnya, pascatsu nami mu – lai muncul sejumlah penya – kit. Ada udang umur 50 hari yang tiba-tiba mati mendadak di Bengku nat, Lam – pung Barat. Serangan myo juga makin ganas di Kalianda, Lampung Selatan.

Produksi Turun

FKPA Lampung telah melakukan kajian terhadap dampak kerusakan hatchery yang dialami anggota APU di Lampung dan Banten terhadap produksi udang. Menurut Bambang, nilai kerugian yang diderita pengusaha hatchery di Lampung Selatan dan Anyer bisa mencapai miliaran rupiah Lalu juga ada kerugian tidak langsung berupa kehilangan potensi produksi hatchery dalam beberapa bulan ke depan yang jumlahnya mencapai 400 juta ekor/bulan. Pasalnya, selain hatchery skala kecil dan menengah di Lampung Selatan dan Anyer, terdapat sejumlah hatchery skala besar yang terkena dampak. “Jika recovery membutuhkan waktu 6 bulan ma ka akan kehilangan potensi produksi benur, sebesar 2 miliar–2,5 miliar ekor yang nilainya bisa puluhan miliar rupiah,” tuturnya. Bambang menambahkan, ke – bu tuhan benur untuk Lampung dan Bengkulu dalam kondisi normal sebanyak 600 juta ekor/ bulan. Dengan terganggunya produksi benur di hatchery Lam pung Selatan dan Anyer, ma ka akan terjadi kekurangan pasokan benur 400 juta ekor/ bulan.

Kekurangan tersebut ti – dak akan mampu dipenuhi dari Banyuwangi dan Bali. Apalagi, selama ini justru benur dari Lampung yang memasok tambak udang di Jatim, Bali, sampai Sulawesi. Bambang yang sehari-hari be – kerja memasarkan benur PT Pri – ma Larva mengaku, inden be – nur sudah mencapai satu bulan. “Kita tidak bisa memenuhi se – mua permintaan benur. Misal – nya jika ada mitra yang minta benur 2,5 juta, paling kita bisa penuhi 1,5 juta ekor. Itu pun di – minta menunggu hingga sebulan ke de – pan,” terangnya. Akibat kelangkaan benur, Bambang mem prediksi, potensi kehilangan produksi udang minimal bisa mencapai 4.000 ton per bulan.

Jika pemulihan memerlukan waktu 6 bulan, maka potensi kehilangan produksi udang Lampung, Banten, dan Jabar minimal 24 ribu ton. “Nilai ekonomi bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Dam – pak lain yang ditimbulkan adalah berkurangnya serapan pakan udang. Potensi kehi langan serapan pakan udang bisa mencapai 6.000 ton/bulan,” ulas dia. Bambang meyakinkan, hal ini sangat berpengaruh pada produksi udang nasio – nal. Ia memperkirakan produksi udang nasional bakal turun 10%-15% sebagai dampak kehilangan produksi sebesar 24 ribu ton. Kendati begitu, ia menilai pasar ekspor udang Indonesia tidak terlalu terganggu jika produksi udang yang diha – silkan daerah lain tidak ikut bermasalah.