Korban Tambak

Sejumlah tambak udang juga terkena dampak tsunami. Dinding tambak sepanjang 300 m dan tinggi 4 m milik Ali Kukuh yang ada di Kalianda, Lampung Selatan roboh diterjang tsunami. Sementara, ko – lam budidaya aman karena posisinya le – bih tinggi dari bibir pantai. “Awalnya untuk memudahkan pengeringan kolam saat panen udang. Ternyata ketika terjadi tsu – nami, konstruksi seperti ini cukup membantu,” ujar Ketua Shrimp Club Lampung (SCL) itu. Tambak anggota SCL di Kel. Merak Be – lantung, Kalianda juga kemasukan air laut. Hanya saja kerugian tidak besar karena tambak belum tebar benur.

Kecuali itu, ada beberapa tambak mengalami keru – sak an, berupa pompa dan paralon hilang. Ali mengakui, hancurnya hatchery di Lam pung dan Banten akan berdampak terhadap pasokan benur ke tambak udang. Untuk meminimalkan dampak penurunan pasokan benur, SCL berkoordinasi dengan hatchery di Banyuwangi dan Bali untuk memasok benur ke Lam – pung sehingga produksi udang bisa tetap jalan. Selain dipengaruhi benur, Ali memperkirakan, penurunan produksi udang tahun ini juga karena jatuhnya harga sehingga pembudidaya tidak bergairah menebar benur. Melemahnya harga di pasar internasional akibat situasi politik dalam ne geri Amerika dan perang dagang dengan China. Ali berharap pemerintah memberikan ke – mudahan berusaha pada pembudidaya dan bukan memperbanyak aturan dan pu – ngutan. Contohnya, aturan pembangunan kolam harus disertai izin mendirikan bangunan (IMB). Padahal, IMB diperlukan jika membangun kantor dan mes karya wan se – ca ra permanen. Untuk membangun kolam, tidak perlu IMB. “Ini membuat kita yang su – dah susah makin dipersusah dalam berusaha,” tandas Ali