Keramik China

Pemerintah resmi mengerek tarif bea masuk untuk keramik asal China melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/2018. Bea masuk keramik dari Negeri Tembok Raksasa bertambah 23% di tahun pertama, 21% pada tahun kedua, dan 19% di tahun ketiga, dari sebelumnya hanya 5%.

Elisa Sinaga, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), menyatakan, kebijakan pemerintah itu sudah ditunggu-tunggu pelaku industri di tanah air. Sayang, kenaikan tarif itu tidak berlaku bagi produk keramik dari 125 negara termasuk India. Padahal, India saat ini adalah produsen keramik nomor dua di dunia, katanya ke wartawan, Jumat (28/9).

Walau yang mendominasi keramik impor adalah produk China, kebijakan pemerintah tersebut bisa merangsang produsen keramik impor lainnya untuk memasukkan barangnya ke Indonesia. Sebab selama ini, India belum masuk karena kalah bersaing dengan China. Tapi ke depan, setelah ada safe guard, bukan tidak mungkin India berpeluang masuk, ungkap Elisa. Sebelumnya, pelaku usaha keramik berekspektasi, pemberlakukan safe guard lewat pengaturan bea masuk itu berlaku untuk semua negara, tidak hanya China.

Impor keramik, menurut Elisa, setiap tahun mengalami kenaikan cukup signifikan. Dan angkanya tumbuh dobel digit. Belum lagi, Elisa menambahkan, saat ini sudah ada tujuh juta meter persegi (m²) keramik impor yang masuk ke pasar lokal. Kalau bisa dibilang, periode 2013 hingga 2017, impor terus naik 22% setiap tahun, ujar dia.

Daya saing meningkat
Edy Suyanto, Direktur PT Arwana Citramulia Tbk, mengatakan, secara umum perusahaannya mendukung kenaikan bea masuk keramik. PMK yang baru ada tambahan 23% plus existing saat ini 5%, totalnya 28% sudah mendekati harapan pelaku industri lokal yang mengharapkan bea masuk 30%, urainya.

Harapannya, kenaikan bea masuk keramik mampu meningkatkan daya saing pelaku industri keramik lokal yang selama ini, Edy bilang, dihantam produk impor China. Harga mereka (China) sangat murah, ungkap dia. Meski demikian, senada dengan Elisa, Edy juga menyayangkan pengecualian bagi 125 negara termasuk India. Produk impor keramik yang berasal dari India ke Indonesia terbilang lebih kecil dibandingkan China, namun industri juga tengah mewaspadai itu, katanya.

Yang jelas, dengan kebijakan pemerintah tersebut, Arwana Citramulia bisa lebih leluasa berekspansi. Mereka menyiapkan serangkaian rencana ekspansi, seperti penambahan lini produksi di pabrik Ogan Ilir di 2019 nanti. Dan, juga tidak tertutup kemungkinan untuk produk keramik ukuran besar yakni 60 cm x 60 cm milik kami bakal mengisi permintaan pasar dalam negeri yang selama ini dikuasai produk impor dari China, tambah Edy.